­
Cerpen

Teori Konspirasi

“Giliran Anda, Angkasa!” Dosenku menyebut namaku. Aku bangkit dari kursi dan melangkahkan kakiku ke depan kelas sambil membawa memory chip yang memuat materi presentasiku. Aku sampai di depan layar sentuh lebar dan membuka media presentasi yang telah kusiapkan dua minggu terakhir. Materi yang akan kubawakan tidak berbeda jauh dengan teman-temanku yang lain. Tugas pertama mata kuliah wajib ini meminta kami untuk menjelaskan tentang...

Continue Reading

Cerpen

Bukan Pertanyaan

Pagi itu, aku melangkahkan kakiku perlahan ke dalam kelas dan  mengambil kursi paling belakang seperti biasanya. Hanya saja kali ini dengan alasan berbeda. Kalau biasanya aku mengambil tempat itu karena tidak ingin diketahui guru saat curi-curi mendengarkan musik lewat headset yang kuselipkan dibalik jilbab, maka hari ini aku melakukannya karena menghindari teman-temanku. Yah, bukan contoh yang baik memang, tapi hal itu membantuku lebih...

Continue Reading

Cerpen

Terima Kasih, Pak Rasyid!

Rheina menatap pusara keluarganya dengan wajah sendu. Tak ada yang bisa ia lakukan selain mengalirkan airmata dalam diam. Ya, hanya dalam diam. Bukan pecahan tangis yang memekakkan telinga, atau bahkan raungan tak teredam tanda kehilangan. Rheina gamang. Ia tak tahu apa tepatnya yang harusnya ia rasakan. Kadang, rasa sesal menyeruak dalam benaknya. Andai ia tak pernah memutuskan sekolah berasrama, pasti di malam naas...

Continue Reading

Cerpen

Four Seasons (Empat Musim)

Saat sebuah cerita berakhir di titik dimana ia dimulai. Tinggal di negeri empat musim memiliki nilai tersendiri bagiku. Aku bisa merasakan saat matahari membakar kulitku di musim panas, dedaunan menimpa puncak kepalaku saat aku menapaki jalur pejalan kaki di musim gugur, salju putih yang dingin menghujani mantel yang kukenakan di musim dingin, dan aku dapat menghirup aroma bunga-bunga yang bermekaran di musim semi....

Continue Reading

Cerpen

Kakak

“Mungkinkah aku egois? Egois karena tak membiarkan Kakak pergi meninggalkanku, dan karena aku ingin Kakak tetap hidup padahal Kakak tersiksa dengan penyakit yang tak ada obatnya ini?” “Kakak sedang apa?” “Sedang melihat bulan, Ren.” Kutatap...

Continue Reading

Cerpen

Unrequited Love

Ketika langit terbelah Keegoisan bagai tercurah Tiada lagi asa tertutup kerah Dan tak pernah ada cinta berbuah Andai tawa tertutup air mata Wajah murung tampak biasa Tertutup cadar nista kelana Mata nanar hanyalah rupa Aku tersentak bagai tak berkawan Hanya karena cinta tak bertuan Ketika cahaya tertutup awan Hatiku rasa tertutup keriasauan Jika saja mentari mampu kugapai Kan kutukar sejuta cita dengan lunglai...

Continue Reading